CIREBON, Kegiatan bertajuk Festival Literasi dan Historia banyak memberikan manfaat bagi peserta yang berasal dari berbagai kalangan dan pelajar di Kota dan Kabupaten Cirebon.
Kegiatan tersebut dilakukan guna memperluas pemahaman generasi muda mengenai sejarah dan peran fiskal negara, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean C Cirebon menggelar kegiatan edukasi sejarah kepabeanan.
Kegiatan ini diikuti oleh ratusan siswa dari berbagai sekolah serta Perguruan Tinggi, di antaranya SMAN 1 Cirebon, SMAN 6 Cirebon, SMK Pelayaran Buana Bahari, SMA Santamaria Cirebon, Akademi MAritim (AKMI) Suaka Bahari dan Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon.
Didampingi langsung oleh Kepala Kantor Bea Cukai Cirebon dan penggiat sejarah, Endang Kusumasari, para pelajar diajak menyusuri rekam jejak pabean Kota Udang melalui metode field trip atau kunjungan lapangan ke sejumlah situs bersejarah yang menjadi saksi bisu perkembangan ekonomi daerah.
"Melalui kegiatan ini, kami ingin para siswa tidak hanya mengenal fungsi Bea Cukai modern, tetapi juga memahami bahwa sistem pabean di Cirebon memiliki akar sejarah maritim yang sangat kuat dan kontribusi besar sejak ratusan tahun lalu," ujar Kepala Kantor Bea Cukai Cirebon dalam sambutannya saat membuka kegiatan, Kamis (5/10).
Menyisir Garis Pantai dan Eks Kantor Pabean Kolonial
Perjalanan edukasi dimulai dari Kantor PAbean Pelabuhan Cirebon yang berada di kawasan pelabuhan aktif saat ini. Di lokasi pertama, penggiat sejarah Endang memberikan pemaparan mengenai transisi aktivitas maritim dari Muara Jati ke Pelabuhan Cirebon yang dikembangkan oleh kolonial Hindia Belanda.
Rute kunjungan kemudian dilanjutkan menuju gedung Dinas Tenaga KAerja (Disnaker) Kota Cirebon Kota Cirebon. Di hadapan para siswa, Endang mengungkapkan fakta sejarah yang jarang diketahui publik bahwa kompleks bangunan Disnaker tersebut pada masa lampau merupakan kantor pabean Cirebon yang bertugas mengawasi lalu lintas komoditas dan pajak wilayah darat.
“Gedung-gedung lawas yang hari ini beralih fungsi menjadi kantor pemerintahan, sejatinya menyimpan cerita tentang bagaimana regulasi ekspor-impor dan tata kelola logistik diatur secara kaku pada masanya,” tutur Endang di sela-sela memandu para siswa.
Mempelajari Jejak Industri dan Akulturasi
Rombongan juga berkesempatan mengunjungi Gedung British American Tobacco (BAT), sebuah ikon arsitektur kolonial yang dahulu menjadi pusat industri rokok dan cukai tembakau terbesar di wilayah karasidenan, serta Gereja Pasundan yang letaknya tak jauh dari klaster pabean lama.
Kunjungan ke dua lokasi ini memberikan gambaran bagi para siswa mengenai kaitan erat antara perkembangan industri pengolahan yang dikenai cukai dengan dinamika sosial masyarakat Cirebon kala itu.
Berziarah ke Makam Tokoh Pabean Pertama
Puncak dari kegiatan lapangan ini ditutup dengan ziarah sejarah ke Makam Tumenggung Arya Wiracula (Tan Sam Tjai Khong) yang terletak di Jalan Sukalila Utara, belakang Pasar Pagi Kota Cirebon.
Kepada para pelajar, dijelaskan bahwa Arya Wiracula merupakan sosok syahbandar sekaligus menteri keuangan etnis Tionghoa Muslim pertama di era Kesultanan Cirebon pasca-Sunan Gunung Jati. Dialah tokoh pelopor yang memperkenalkan sekaligus menata sistem pabean tradisional, mengendalikan tiga pelabuhan utama, serta menginisiasi pasar-pasar tradisional di Cirebon.
Kegiatan yang berlangsung atraktif ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa kepemilikan generasi muda terhadap cagar budaya lokal, sekaligus menanamkan kesadaran hakiki mengenai pentingnya menjadi kedaulatan ekonomi negara melalui sektor kepabeanan dan cukai sejak dini.
Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean C Cirebon, Koen Rachmanto, menjelaskan bahwa kegiatan edukasi sejarah ini dirancang agar pelajar memahami akar sejarah pengawasan barang dan penerimaan negara secara mendalam.
"Kami ingin adik-adik generasi muda tidak hanya mengenal fungsi Bea Cukai dari sisi modern saja, melainkan juga mengerti bahwa fondasi kepabeanan di Cirebon ini memiliki akar maritim dan kontribusi besar yang sangat kuat sejak ratusan tahun lalu," ujar Koen Rachmanto di sela-sela kegiatan.
Kegiatan ini pun mendapat respons positif dari para peserta. Salah satu siswa SMA Santamaria, Bryan Christian Santoso, mengaku sangat senang karena bisa mengikuti pembelajaran luar ruang yang interaktif. Ia menyatakan baru mengetahui letak titik-titik pabean kuno dan runutan sejarah kepabeanan di tanah kelahirannya sendiri yang ternyata sudah berakar sejak era kesultanan.
"Saya sangat senang sekali bisa ikut kegiatan ini. Jujur, saya baru tahu lokasi-lokasi pabean kuno ini dan ternyata sejarah kepabeanan di Cirebon itu sangat panjang dan sekaya ini," ungkap Bryan dengan antusias.
Bryan menambahkan selaku siswa SMA Santamaria mengaku sangat senang dan baru mengetahui lokasi serta sejarah panjang kepabeanan di Cirebon yang berakar sejak era kesultanan.
"Ternyata Cirebon menyimpan sejarah panjang dengan perdagangan nasional dan internasional. Saya sangat senang mengikuti Festival Literasi dan Historia. Kami berharap Bea Cukai menggelar kegiatan serupa tentunya dengan waktu lebih panjang," ujar Bryan.
Kegiatan yang berlangsung atraktif ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa kepemilikan generasi muda terhadap cagar budaya lokal, sekaligus menanamkan kesadaran hakiki mengenai pentingnya menjaga kedaulatan ekonomi negara melalui sektor kepabeanan dan cukai sejak dini.(*/Yolan)


Posting Komentar